Ticker

6/recent/ticker-posts

Ad Code


 

Refleksi Hari Guru Nasional 25 November 2025


Hari Guru Nasional selalu menjadi momen bagi kita untuk berhenti sejenak, menoleh ke belakang, dan melihat betapa besarnya peran seorang guru dalam perjalanan sebuah bangsa. Namun pada tahun ini, izinkan saya mengajak kita semua untuk tidak hanya mengingat, tetapi merenung lebih dalam tentang bagaimana guru hadir di ruang kelas hari ini.

Dalam banyak kesempatan, saya melihat bahwa sebagian guru datang ke sekolah dengan mindset bahwa mengajar adalah pekerjaan. Dan memang, tidak ada yang salah dengan itu. Mengajar memang pekerjaan—ada jam hadir, ada administrasi, ada kewajiban formal. Namun apabila guru berhenti pada batas pekerjaan, maka hasilnya pun berhenti pada rutinitas: mengajar sekadar menyelesaikan materi, hadir sekadar menggugurkan kewajiban.

Tetapi ada level yang jauh lebih tinggi.

Ada guru-guru yang hadir bukan sebagai pekerja, tetapi sebagai pekarya.

Seorang pekarya tidak sekadar bekerja, dia berkarya. Ia melihat kelas bukan sebagai ruang wajib mengajar, melainkan sebagai studio tempat memahat masa depan.

Ia melihat siswa bukan sebagai objek pembelajaran, melainkan sebagai ladang kemungkinan, setiap dari mereka adalah “karya hidup” yang harus ditumbuhkan.

Bekerja hanya menghasilkan rutinitas.

Berkarya melahirkan inovasi.

Ketika niat seorang guru adalah berkarya, maka ia tidak pernah merasa cukup. Ia berpikir, bereksperimen, mencoba metode baru, menata ulang cara mengajar, mencari pendekatan terbaik untuk setiap anak. Ia tidak menunggu perubahan, ia menciptakan perubahan.


Jika guru di Kabupaten Grobogan mampu mengubah mindset dari pekerja menjadi pekarya, maka pembelajaran akan menjadi jauh lebih bermakna, hidup, dan penuh dampak. Setiap ruang kelas akan menjadi ruang inovasi, setiap siswa akan merasakan bahwa gurunya tidak hanya hadir untuk mengajar, tetapi untuk menghidupkan proses belajar.

Dan ketika seorang guru berkarya, ia akan dikenang. Bukan karena pangkatnya, bukan karena sertifikatnya, tetapi karena jejak yang ditinggalkan di hati anak-anak.

Selamat Hari Guru Nasional.

Terima kasih untuk semua guru Grobogan yang terus memilih untuk berkarya.


Cerita Fiktif (kesamaan nama hanya kebetulan semata) 

“Dua Guru di Ruang yang Sama”


Di sebuah sekolah kecil di pinggir Grobogan, ada dua guru:

Bu Raras, guru yang datang ke sekolah sebagai pekerja,

dan Pak Danar, guru yang hadir sebagai pekarya.


Bu Raras: Mengajar sebagai Pekerjaan

Setiap pagi Bu Raras datang terburu-buru. Jam dinding adalah kompas hidupnya.

Pukul tujuh harus absen. Pukul delapan harus mulai mengajar.

Pukul tiga pulang.

Ia mengajar dengan buku ajar yang sama sejak bertahun-tahun lalu. Kalimat yang ia ucapkan hampir tidak pernah berubah. Kadang ia mengajar sambil duduk, matanya sesekali mengintip jam di dinding, menunggu bel bergema seperti suara pembebasan.


Anak-anak menghormatinya, tentu saja. Mereka memanggilnya “Bu”.

Tetapi tidak ada yang benar-benar mengingatnya.

Baginya, mengajar adalah pekerjaan yang harus diselesaikan.

Dan pekerjaan yang diselesaikan, biasanya hanya meninggalkan jejak administratif.


Pak Danar: Hadir sebagai Pekarya

Berbeda dengan Bu Raras, Pak Danar tiba paling awal.

Ia membuka jendela, merapikan bangku, dan menulis sebuah kalimat motivasi di papan tulis setiap hari. Bagi Pak Danar, kelas adalah ruang hidup tempat ia menanamkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar pengetahuan.

Pada hari-hari tertentu ia mengganti metode mengajar:

Pernah ia mengajak anak-anak belajar di halaman karena menurutnya “angin bisa menyampaikan inspirasi.”

Pernah juga ia memodifikasi permainan tradisional menjadi media pembelajaran.

Kadang ia membaca buku puisi untuk membuka pelajaran, agar anak-anak tahu bahwa ilmu tidak selalu harus kaku.

Pak Danar tidak bekerja.

Ia berkarya.

Dan karena itu, anak-anak mencintainya dengan cara yang halus dan tak terucap—dengan cara yang hanya bisa dirasakan oleh guru yang berkarya: tatapan yang penuh harap, energi belajar yang tumbuh, dan cerita-cerita kecil yang mereka bawa pulan.


Oleh: Edy Susanto

Penilik Sekolah Kabupaten Grobogan


Posting Komentar

0 Komentar