Saya meyakini, semakin kita berharap kepada anak, semakin besar peluang kita untuk kecewa. Coba deh, nyuruh anak jaman sekarang, sholat, mandi, bersih-bersih? Mereka cenderung melakukan apa yang diinginkan, bukan apa yang kita inginkan. Ingat. Kalau kita berpikir tentang harapan kita tentang anak, bisa bikin tensi kita naik. Kita harus ingat, kita hanya bisa berharap kepada Allah, dan harapan kita kepada manusia, termasuk anak, mari kita wujudkan dalam bentuk memberi.
Ketika kita berharap anak kita menjadi baik, kita harus menjadi baik terlebih dahulu. Ketika kita berharap anak kita berbakti, kita harus berbakti kepada mereka terlebih dahulu. Ini bukan tentang siapa yang lebih baik, tapi tentang bagaimana kita dapat menjadi contoh bagi anak kita.
Saya percaya, orang tua memiliki kewajiban untuk berbakti kepada anak, yaitu dengan memberikan yang terbaik, menghamba kepada mereka, dan memenuhi kebutuhan mereka. Dengan demikian, kita tidak akan kecewa jika anak kita tidak memenuhi harapan kita, karena kita telah melakukan yang terbaik.
Jangan berharap kembali, karena hukum semesta pasti akan mengembalikan semua pemberianmu. Kesehatan, ketentraman, kebahagiaan, semua akan kembali kepada kita jika kita terus memberi tanpa berharap kembali.
Jadi, mari kita berpikir sebaliknya. Mari kita berbakti kepada anak kita, dan biarkan mereka menjadi apa adanya. Karena, pada akhirnya, kita yang akan menuai apa yang kita tanam.
Bagaimana menurut sahabat? Tulis di kolom komentar.
ESD penilik


0 Komentar