Saat Brand Sepatu Menyelamatkan Yoyok dari Neraka Ujian
Jadi begini ceritanya...
Pagi itu ruang ujian tesis Magister Manajemen mendadak suhunya naik 10 derajat. Bukan karena AC mati, tapi karena 3 Dosen Penguji udah mode titan. Di tengah ruangan, duduklah Yoyok Prihantoro. Keringetnya belum keluar, tapi aura pede-nya udah bikin projector minder.
Ronde 1: Serangan Pembuka
Dosen Penguji 1: "Saudara Yoyok, hipotesis Anda bilang brand itu penting buat jualan sepatu. Saya gak setuju! Orang beli sepatu itu karena butuh, bukan karena merk!"
JLEB! Pertanyaan pertama langsung nusuk ulu hati. Ruangan hening. Tembok aja nahan napas.
Yoyok cuma senyum, seruput air putih, terus jawab:
"Siap, Prof. Bener, orang beli sepatu karena butuh. Tapi kenapa pas butuh, yang dicari Nike bukan Niken tetangga? Kenapa yang dibeli Adidas, bukan Adimas? Itu Prof... namanya kekuatan BRAND!"
BUAKK! Dosen Penguji 1 kicep. Kacamata-nya melorot saking takjubnya.
Ronde 2: Dibantai Gaya MMA
Dosen Penguji 2 gak terima. Dia keluarin jurus: "Data Anda ini cuma 100 responden! Gak bisa digeneralisir! Ini tesis apa polling RT?"
Yoyok dibanting dengan statistik, dicekik dengan metodologi, ditendang dengan daftar pustaka. Yoyok udah 3-0. Nyaris KO.
Tapi di detik terakhir, Yoyok bangkit kayak Undertaker. Dia buka slide terakhir. Isinya foto orang antre 3 hari 3 malam cuma buat beli sepatu rilis terbatas.
"Prof, ini 100 ribu orang. Antre. Hujan. Panas. Gak dibayar. Cuma demi logo kecil di sepatu. Kalau ini bukan bukti brand lebih galak dari kebutuhan, terus apa? Rasional? Konsumen itu beli pake perasaan, Prof. Logikanya nyusul belakangan pas lihat tagihan kartu kredit!"
GEDUBRAK! Dosen Penguji 2 tewas di tempat. Dijitak sama fakta.
Ronde 3: Jurus Pamungkas
Ketua Penguji maju. Mukanya datar. Ini yang paling serem.
"Yoyok... kalau brand sepenting itu, kenapa tukang sol sepatu di Pasar Gede masih laku? Dia gak punya brand."
Semua orang merinding. Ini pertanyaan filsafat. Ini jebakan batman.
Yoyok diem 5 detik. Terus dia lepas kacamata, tatap tajam ke Ketua Penguji:
"Justru itu Prof. Tukang sol itu BRAND-nya dia sendiri. Brand-nya adalah 'Pak No, Ahli Sol Anti Mangap 30 Tahun'. Orang datang bukan cari sol, tapi cari 'Pak No'. Nama dia itu BRAND. Buktinya, saya sol di tempat lain gak cocok. Di Pak No, sekali nempel, serasa nikah. Awet."
DUARRR! Ruangan meledak. Ketua Penguji berdiri, tepuk tangan sambil nangis terharu. Tembok ruang ujian retak karena argumen Yoyok terlalu berat.
Akhirnya palu diketok.
"Saudara Yoyok Prihantoro... LULUS DENGAN PREDIKAT SANGAT MEMUASKAN!"
Di luar ruangan, para mahasiswa lain sujud syukur. Mereka gak nyangka Yoyok selamat dari pembantaian 3 naga. Sejak hari itu, tesis Yoyok jadi kitab suci anak MM. Judulnya: "Brand: Bukan Sekadar Logo, Tapi Alasan Orang Rela Lapar Demi Gengsi di Kaki".
Dan Yoyok? Dia pulang dengan gelar M.M. singkatan dari Manusia Menang.
Sekali lagi selamat, Yok! Kamu udah buktiin: Dosen boleh galak, tapi argumen yang kuat plus mental baja gak akan kalah. Traktirannya ditunggu.
ESD Penilik


0 Komentar