Tahun 2025 perlahan menutup pintunya. Ia tidak pergi dengan gaduh, tetapi dengan jejak-jejak panjang yang tertinggal di hati, pikiran, dan kesadaran. Ada lelah yang terbayar, ada doa yang dijawab dengan cara yang tak selalu kita rencanakan, dan ada pelajaran yang datang justru dari hal-hal yang semula terasa berat.
Bagi saya, 2025 adalah tahun perjalanan—bukan sekadar tentang capaian, tetapi tentang pendewasaan.
Sebagai Penilik PAUD di Kabupaten Grobogan, tahun ini mengajarkan kembali makna hadir secara utuh. Mendampingi pendidik, menyapa lembaga-lembaga nonformal, menyaksikan anak-anak tumbuh dengan tawa dan harapan, membuat saya sadar bahwa pendidikan sejatinya bukan hanya soal administrasi, instrumen, atau laporan. Ia adalah tentang sentuhan kemanusiaan. Tentang kesabaran. Tentang keikhlasan menanam, meski tak selalu memetik hasilnya hari ini. Dari dunia PAUD, saya belajar bahwa fondasi kehidupan dibangun dari hal-hal yang sederhana, namun dikerjakan dengan cinta.
Sebagai Sekretaris Umum KONI Kabupaten Grobogan, 2025 adalah tahun penuh dinamika. Olahraga bukan hanya soal medali dan podium, tetapi tentang mengelola ego, membangun kolaborasi, dan menjaga semangat di tengah keterbatasan. Di balik rapat panjang, tekanan target, dan keputusan-keputusan strategis, saya belajar bahwa kepemimpinan bukan tentang berdiri paling depan, melainkan tentang memastikan semua bisa melangkah bersama. Prestasi sejati bukan hanya yang tercatat di papan klasemen, tetapi yang terukir dalam proses dan kebersamaan.
Di peran saya sebagai Ketua PERPANI Grobogan, tahun ini mengajarkan ketepatan, bukan hanya dalam membidik sasaran, tetapi dalam membidik niat. Panahan mengajarkan filosofi hidup, tenang sebelum melepaskan, fokus pada tujuan, dan menerima ke manapun anak panah itu akhirnya menancap. Tidak semua bidikan sempurna, namun setiap tarikan busur adalah latihan kesadaran. Bahwa hasil adalah hak Allah, sementara ikhtiar adalah kewajiban manusia.
Namun, di atas semua peran dan jabatan, 2025 adalah tahun yang paling bermakna bagi saya sebagai seorang ayah. Membersamai tiga putriku dalam tawa, tangis, cerita sederhana, dan pelukan-pelukan hangat adalah pengingat paling jujur tentang arti hidup. Dari merekalah saya belajar ulang tentang ketulusan, tentang hadir tanpa topeng, dan tentang cinta yang tidak mensyaratkan apa pun. Mereka adalah cermin yang mengajarkan saya untuk menjadi manusia yang lebih sabar, lebih lembut, dan lebih bertanggung jawab.
Jika harus merangkum prestasi terbesar saya di tahun 2025, maka itu bukan sekadar angka, jabatan, atau penghargaan. Prestasi terbesar itu adalah meningkatnya kesadaran diri sebagai manusia. Lebih mampu menahan diri, lebih bijaksana dalam menyikapi perbedaan, dan lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Belajar memahami bahwa tidak semua hal harus dimenangkan, dan tidak semua luka harus dibalas.
Percaya diri di tahun ini saya pahami bukan sebagai kesombongan, melainkan sebagai wujud syukur. Percaya bahwa Allah tidak salah menempatkan saya pada jalan hidup ini. Bahwa setiap amanah datang dengan kemampuan yang menyertainya. Dan bahwa menerima realita—sekeras apapun adalah esensi dari takwa yang sesungguhnya.
Selamat tinggal tahun 2025. Engkau bukan untuk dilupakan, tetapi untuk dikenang sebagai guru yang tegas namun adil. Engkau bukan sekadar masa lalu, tetapi bekal untuk melangkah. Dari setiap proses, saya belajar. Dari setiap kekurangan, saya bertumbuh. Dan dari setiap pencapaian, saya diingatkan untuk tetap rendah hati.
Menuju masa depan, saya tidak berharap menjadi manusia yang sempurna. Cukuplah menjadi manusia yang lebih sadar, lebih jujur pada diri sendiri, dan lebih dekat kepada Allah.
Selamat tinggal 2025.
Terima kasih atas segala pelajaran.
Perjalanan ini belum selesai—dan saya siap terus belajar.
ESD Penilik.


0 Komentar