Ticker

6/recent/ticker-posts

Ad Code


 

Asal Mula Konten Edy Soga Drama (ESD)


Di balik setiap konten yang viral, biasanya ada cerita kecil yang sederhana. Begitu juga dengan Edy Soga Drama, atau yang kami singkat ESD.

Semua berawal dari dua orang yang sehari-harinya hidup di dunia pendidikan, tapi dengan peran yang berbeda. Saya Edy, seorang Penilik Sekolah Non Formal. Tugas saya mendampingi PKBM, PAUD, kursus, dan kelompok belajar masyarakat. Dan Pak Soga, seorang Pengawas Sekolah Dasar. Tugas beliau membina dan mengawasi SD di wilayah kerja kami.

Kami sering bertemu di lapangan. Kadang di kantor dinas, kadang di acara pembinaan, kadang di warung kopi dekat sekolah. Dan setiap kali bertemu, pasti ada cerita. Cerita tentang guru yang curhat karena Dapodik belum beres. Cerita tentang orang tua yang marah karena nilai anaknya jelek. Cerita tentang sekolah kecil di desa yang berjuang dengan fasilitas seadanya.

Lama-lama kami sadar, percakapan kami itu menarik. Bukan karena penuh teori. Tapi karena penuh realita.

Dari Obrolan Kantin Jadi Konten Kamera

Suatu hari, setelah sidak bersama, kami duduk di teras SD sambil ngopi. Pak Soga buka laptop, saya buka map laporan. Kami ngobrol soal absensi siswa yang 100% di Dapodik, tapi kelasnya kosong. Saya bilang, “Pak, itu absen online-nya 100%. Absen hatinya yang bolong.”

Pak Soga terdiam. Lalu ketawa. “Itu kalimat bagus, Pak. Sayang kalau cuma kita berdua yang denger.”

Dari situlah ide muncul. Kenapa tidak kita rekam? Kenapa tidak kita jadikan konten 2-3 menit? Biar guru lain, orang tua, bahkan masyarakat umum bisa ikut belajar sambil ketawa.

Nama Edy Soga Drama pun lahir begitu saja. “Edy” dari saya, “Soga” dari Pak Soga, “Drama” karena memang kami mengemasnya seperti drama pendek. Ada konflik, ada adu argumen, ada solusi, dan selalu ada kalimat refleksi di akhir.

Kenapa Formatnya Drama 2-3 Menit?

Karena kami paham, guru dan orang tua sekarang tidak punya banyak waktu. Mereka butuh konten yang cepat, padat, dan kena. Durasi 2-3 menit itu pas. Cukup untuk menyampaikan satu pesan moral tanpa membuat orang bosan.

Latarnya juga kami sengaja bikin sederhana. Teras sekolah, ruang kelas PKBM, kantin, ruang tamu kantor. Karena di situlah realita pendidikan sebenarnya terjadi. Bukan di ruang seminar yang megah.

Tujuan Kami Bukan Mencari Viral

Jujur saja, tujuan awal ESD bukan untuk viral. Tujuan kami adalah menjadi jembatan.

Jembatan antara aturan dan realita. Antara pengawas dan pelaksana. Antara sekolah formal dan non formal. Kami ingin menunjukkan bahwa pendidikan itu tidak hitam-putih. Ada abu-abu yang perlu dipahami dengan hati, bukan hanya dengan buku peraturan.

Lewat karakter Edy yang santai tapi bijak, dan Soga yang tegas tapi manusiawi, kami ingin menampilkan dua sisi itu. Dua sisi yang sering bertentangan, tapi sebenarnya saling melengkapi.

Harmoni Budaya, Semangat Emansipasi

Nama “Harmoni Budaya Dalam Semangat Emansipasi” kami pakai sebagai benang merah. Karena kami percaya, pendidikan yang baik harus punya dua hal: akar budaya yang kuat dan semangat kesetaraan yang hidup.

Seperti saat kami membuat konten Parade Baju Adat naik andong. Itu bukan sekadar seru-seruan. Itu cara kami mengajarkan anak-anak bahwa budaya harus dilestarikan. Seperti saat kami membuat konten cooking class yang diikuti anak laki-laki dan perempuan. Itu cara kami mengajarkan bahwa tidak ada pekerjaan yang terbatas pada gender.

ESD Untuk Semua

ESD bukan milik saya dan Pak Soga saja. ESD milik semua guru, semua orang tua, semua orang yang peduli dengan pendidikan.

Kami hanya berbagi apa yang kami lihat, kami alami, dan kami rasakan. Dengan cara yang ringan, jujur, dan sedikit lucu. Karena pendidikan itu berat. Kalau tidak dibungkus dengan humor dan harapan, orang akan cepat lelah.

Jadi kalau suatu hari Anda melihat video ESD, ingatlah ini:  

Di balik dialog itu, ada obrolan nyata di teras sekolah.  

Di balik tawa itu, ada keprihatinan yang nyata.  

Dan di balik pesan itu, ada harapan yang nyata.

Bahwa pendidikan Indonesia bisa lebih baik, kalau kita mau mendengarkan satu sama lain.


Saya Edy. Dia Soga. Ini ESD. Dan ini baru permulaan.

Posting Komentar

0 Komentar