Oleh: Edy Susanto
Sekretaris Umum KONI Grobogan & Ketua PERPANI Grobogan
Langkah Menteri Pemuda dan Olahraga RI, Bapak Erick Thohir, yang memutuskan mengembalikan pengelolaan Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) dan Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (Pomnas) ke Kementerian Pendidikan adalah keputusan strategis yang patut kita dukung penuh. Sebagai pelaku olahraga di daerah, saya melihat ini bukan sekadar perpindahan administrasi, tetapi upaya mengembalikan pembinaan olahraga ke jalurnya yang paling natural: sekolah dan kampus.
Menghilangkan Sekat Birokrasi
Selama ini pembinaan atlet pelajar sering terjepit antara kepentingan olahraga prestasi dan tanggung jawab pendidikan. Banyak guru olahraga kesulitan karena jadwal latihan berbenturan dengan kalender akademik. Banyak anak berbakat harus memilih: fokus sekolah atau fokus bertanding.
Dengan diserahkannya Popnas ke Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Pomnas ke Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, jalur pembinaan menjadi linear. Atlet adalah siswa. Siswa adalah tanggung jawab lembaga pendidikan.
Ketika sekolah menjadi tuan rumah pembinaan, maka kurikulum, jadwal latihan, dan kompetisi bisa disinkronkan. Tidak ada lagi anak yang harus bolos berhari-hari karena TC di luar kota tanpa kepastian akademik. Pembinaan menjadi lebih manusiawi dan berkelanjutan.
Gotong Royong yang Dulu Pernah Hidup di Grobogan
Di Grobogan sendiri, saya merasakan langsung betapa semaraknya Pekan Olahraga Daerah Pelajar, Popda, ketika masih dikelola oleh Dinas Pendidikan.
Saat itu, seluruh sekolah turun tangan. Guru olahraga bekerja sama dengan wali kelas untuk mempersiapkan anak didiknya. Orang tua datang ke lapangan, membawa bekal, membuat spanduk kecil, dan menjadi suporter paling berisik untuk anak-anaknya.
Suasananya bukan hanya kompetisi, tapi pesta rakyat pendidikan. Ada gotong royong, ada kebanggaan, ada rasa memiliki. Anak-anak bertanding dengan semangat karena tahu guru dan orang tuanya ada di tribun.
Semangat inilah yang ingin kita hidupkan kembali. Ketika sekolah kembali menjadi pusat pembinaan, maka dukungan komunitas akan datang secara alami. Pembinaan tidak lagi menjadi tugas KONI dan cabor sendirian, tetapi menjadi gerakan bersama.
Kolaborasi Lintas Sektoral yang Masif
Saya juga mengapresiasi visi Menpora yang tidak ingin bekerja sendiri. Pelibatan TNI, Polri, dan pemerintah daerah dalam menjaring talenta adalah terobosan penting. Banyak atlet berbakat lahir dari desa, pesantren, dan institusi kedinasan yang selama ini luput dari radar.
Dengan menggandeng berbagai pihak, kita sedang membangun jaring raksasa untuk memastikan tidak ada satu pun mutiara olahraga di daerah yang tercecer. Di Grobogan, kami siap bersinergi. Klub, sekolah, dan orang tua harus duduk bersama untuk merawat bibit atlet sejak usia dini.
Fokus Kemenpora: High Performance dan Standarisasi
Lantas apa peran Kemenpora ke depan? Justru tugasnya menjadi lebih tajam dan fokus. Dengan dilepaskannya teknis Popnas dan Pomnas, Kemenpora bisa berkonsentrasi pada:
1. Penyusunan standar Desain Besar Olahraga Nasional, DBON.
2. Pengawasan program high performance training.
3. Penyiapan atlet menuju SEA Games, Asian Games, hingga Olimpiade.
Ini pembagian peran yang sehat. Sekolah dan kampus membina dari hulu. Kemenpora dan KONI mengantar ke hilir, ke pentas nasional dan internasional.
Harapan untuk Masa Depan Olahraga Grobogan dan Indonesia
Sistem yang terstruktur dan kolaboratif ini adalah fondasi yang kita butuhkan. Di Grobogan, kesinambungan atlet dari jenjang SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi adalah pekerjaan rumah kita bersama.
Jika akar pembinaan, yaitu Popda dan Popnas, dikelola oleh institusi yang memang membawahi massa pelajar, maka kami di KONI kabupaten akan lebih mudah melakukan pembinaan lanjutan secara teknis dan terukur. Guru olahraga akan semakin terstruktur, sistematis, dan masif dalam menjalankan tugasnya.
Mari kita kawal transformasi ini. Mari kita kembalikan marwah pembinaan ke tempatnya semula: sekolah dan kampus.
Karena dari sanalah lahir atlet-atlet berkarakter, berpendidikan, dan berprestasi. Dan dari sanalah kita berharap, suatu hari nanti, Merah Putih berkibar lebih tinggi di panggung dunia.
ESD Penilik_


0 Komentar