Di tengah hiruk-pikuk dunia yang menyembah kepastian, ada sebuah paradoks yang jarang kita akui: terlalu banyak berpikir bukanlah bentuk ketidaklogisan, melainkan sebuah logika yang terjebak dalam labirinnya sendiri. Mereka yang disebut overthinker sebenarnya sedang menjalankan rasio dengan intensitas luar biasa, hanya saja, seperti sungai yang meluap karena terlalu banyak air, pikiran mereka kebingungan memilih jalur mana yang akan ditempuh.
Sebuah studi yang dimuat dalam Harvard Business Review (2022) mengungkapkan bahwa 73% profesional muda berusia 25-35 tahun mengalami "analisis paralysis" dalam pengambilan keputusan sehari-hari. Ini bukan gejala irasionalitas, melainkan dampak dari dunia yang menawarkan terlalu banyak pilihan dan konsekuensi. Riset tersebut justru menunjukkan bahwa overthinker sering kali memiliki kemampuan analitis di atas rata-rata, meski seperti pedang bermata dua, kelebihan itu berbalik menyiksa mereka sendiri.
Di era media sosial yang mempertontonkan kesuksesan instan dan menghukum setiap kesalahan, budaya kita secara tidak sadar memelihara kebiasaan overthinking. Setiap unggahan adalah kurasi sempurna, setiap karier adalah narasi linear, hingga yang tertinggal adalah kecemasan bahwa satu langkah salah akan berakibat fatal. Kita hidup dalam masyarakat yang memuja keputusan cepat tapi sekaligus menyediakan panggung besar untuk mengkritik setiap keputusan yang diambil.
Dalam diam yang riuh oleh pertimbangan-pertimbangan itu, setidaknya ada enam prinsip yang bisa kita renungkan bersama:
Pertama, sadari bahwa setiap "kalau" dalam pikiranmu adalah bukti bahwa kau peduli, bukan bukti kelemahan. Masalahnya muncul ketika kepedulian itu berubah menjadi penjara, di mana kau begitu sibuk mengamati setiap kemungkinan buruk hingga lupa bahwa hidup juga terdiri dari kemungkinan-kemungkinan baik.
Kedua, logika tanpa batas akan berubah menjadi siksaan. Seperti api yang awalnya menghangatkan tapi bisa membakar hutan ketika tak terkendali, pikiran analitis yang terus-menerus bekerja justru menggerogoti kemampuanmu untuk bertindak. Batasi waktumu untuk menganalisis, sama pentingnya dengan menganalisis itu sendiri.
Ketiga, duniamu tidak seluas kemungkinan-kemungkinan dalam kepalamu. Overthinker sering kali terjebak dalam simulasi realitas yang mereka ciptakan sendiri, sementara kehidupan nyata berjalan dengan aturannya yang lebih sederhana. Keluarlah sesekali dari ruang kontrol pikiranmu dan biarkan hidup mengajarkanmu pelajaran yang tak bisa dihitung oleh logika.
Keempat, keputusan yang diambil dengan 70% keyakinan dan 30% keberanian sering kali lebih bermakna daripada keputusan sempurna yang tak pernah terwujud. Sejarah tidak ditulis oleh mereka yang menunggu kepastian mutlak, melainkan oleh mereka yang berani mengambil langkah dalam ketidakpastian.
Kelima, beri ruang bagi kebijaksanaan tubuhmu. Terlalu sering kita lupa bahwa tubuh memiliki kecerdasannya sendiri, sebuah pengetahuan intuitif yang tak bisa diurai oleh rasio. Ketika pikiranmu lelah berputar-putar, diamlah sejenak dan dengarkan apa kata nalurimu.
Keenam, terimalah bahwa menjadi manusia adalah merangkul ketidaksempurnaan setiap pilihan. Filosofi wabi-sabi dari Jepang mengajarkan kita tentang keindahan dalam ketidaksempurnaan, mungkin inilah penawar paling ampuh bagi jiwa-jiwa yang terjebak dalam pencarian solusi sempurna.
Pada akhirnya, overthinking adalah bukti betapa manusiawi dirimu, sebuah manifestasi dari keinginan untuk hidup dengan sadar dan bertanggung jawab. Tapi seperti segala sesuatu yang manusiawi, ia memerlukan keseimbangan.
Jika keheningan adalah ruang di mana pikiran belajar mendengar, dan kata-kata adalah jembatan dimana logika menemukan maknanya, manakah yang lebih sulit: berhenti memikirkan semua "kalau" dalam kepalamu, atau justru memulai sebuah tindakan dengan membawa serta semua "kalau" itu sebagai teman perjalanan?
Sumber : Fb Logika Filsuf
ESD Penilik


1 Komentar
Mantap coach👍
BalasHapus