Perjuangan Kartini bukan sekadar soal kebaya
Kartini berjuang saat perempuan dipingit, tidak boleh sekolah tinggi, dan dijodohkan tanpa diminta pendapat. Ia menulis, berdebat, mendirikan sekolah untuk anak perempuan. Ia tahu, kemerdekaan bangsa tidak akan utuh kalau separuh penduduknya dibiarkan bodoh. “Habis gelap terbitlah terang” bukan jargon kosong. Itu doa sekaligus ikhtiar agar perempuan keluar dari gelapnya kebodohan.
Tapi Kartini tidak berjuang sendirian.
Di balik Kartini, ada Kartono
Kartini punya kakak laki-laki, R.M.P. Sosrokartono. Seorang cendekiawan, wartawan, diplomat, yang jadi teman diskusi Kartini. Kartono-lah yang mengenalkan buku-buku, yang mengirimkan majalah-majalah Eropa, yang menguatkan adiknya ketika lingkungan mencibir. Tanpa Kartono, surat-surat Kartini mungkin tidak setajam itu. Tanpa Kartono, nyala Kartini mungkin lebih cepat padam.
Saya pakai analogi itu. Jika Kartini adalah simbol perempuan yang berani berpikir dan bermimpi, maka Kartono adalah simbol laki-laki yang tidak takut pada perempuan cerdas. Kartono tidak menutup pintu. Ia justru membukakan jendela. Ia tidak memadamkan api. Ia yang menjaga agar apinya tidak ditiup angin.
Kartini hari ini tetap butuh Kartono
Zaman sudah berubah. Perempuan 2026 bisa jadi menteri, CEO, pilot, dosen, kepala sekolah. Pintu sekolah sudah terbuka. Tapi tantangan baru muncul: beban ganda, stigma “terlalu ambisius”, kekerasan digital, pelecehan di ruang kerja.
Di sinilah saya berkata: Saya Kartono.
Bukan berarti saya merasa paling berjasa. Tapi saya memilih sadar bahwa kodrat laki-laki adalah menjadi pelindung, bukan penghalang. Allah berfirman: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan karena mereka menafkahkan sebagian dari harta mereka…” (QS. An-Nisa: 34).
Ayat ini bukan surat izin untuk menindas. Ini amanah untuk menjaga. Menjadi pemimpin artinya berdiri paling depan saat ada bahaya, berdiri paling belakang saat bagi rezeki, dan berdiri di samping saat dia butuh teman berpikir.
Kartini hari ini butuh Kartono yang:
- Mendukung mimpi, bukan memangkas sayap. Kalau istri mau lanjut S2, kalau adik perempuan mau buka usaha, kalau murid perempuan mau jadi insinyur, dengarkan, tanya “apa yang bisa kubantu?”, bukan “untuk apa perempuan tinggi-tinggi sekolahnya?”
- Menjaga kehormatan, bukan mengurung langkah. Melindungi bukan berarti melarang keluar rumah. Melindungi berarti memastikan lingkungannya aman, memastikan dia pulang dengan selamat, memastikan suaranya didengar saat rapat.
- Jadi teladan bagi Kartono kecil. Anak laki-laki belajar dari ayahnya. Kalau ia lihat ayahnya menghormati ibunya, menghargai pendapat kakak perempuannya, kelak ia tidak akan jadi laki-laki yang takut pada perempuan hebat.
Kartini dan Kartono bukan lawan. Mereka tim
Tujuan Kartini bukan mengalahkan laki-laki. Tujuan Kartono bukan menguasai perempuan. Tujuannya satu: masyarakat yang adil, rumah yang hangat, bangsa yang kuat. Perempuan butuh ruang untuk tumbuh, laki-laki butuh lapang untuk melindungi. Dua-duanya kodrat. Dua-duanya ibadah.
Maka di Hari Kartini 2026 ini, saya ucapkan selamat untuk semua Kartini: ibuku, istriku, anak perempuanku, murid-muridku, rekan kerjaku. Terima kasih sudah berani terang.
Dan saya mengajak semua laki-laki: mari jadi Kartono. Bukakan buku, bukan tutup pintu. Jadi tameng, bukan tembok. Jadi teman diskusi jam 2 pagi, bukan hakim yang memvonis mimpinya.
Karena terang Kartini akan lebih lama menyala, kalau ada Kartono yang menjaganya dari angin.
Saya Kartono, Selamat Hari Kartini.


1 Komentar
Saya kartono
BalasHapus