Tradisi saling memaafkan di hari raya berakar pada tuntunan agama. Al-Qur’an memuji orang-orang bertakwa yang “menahan amarah dan memaafkan (kesalahan) manusia; Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS. Ali ‘Imran: 134). Pada ayat lain ditegaskan, “Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu?” (QS. An-Nur: 22). Rasulullah SAW pun bersabda, “Tidaklah seseorang memaafkan kecuali Allah akan menambah kemuliaannya” (HR. Muslim). Idulfitri menjadi momentum menghidupkan nilai itu: kembali pada fitrah dengan hati yang bersih.
Saya mengajak kita semua menjadikan memaafkan sebagai keniscayaan dan bagian tak terpisahkan dari kemanusiaan kita. Memaafkan bukan tanda lemah, melainkan jalan menjadi pribadi yang lebih bijaksana dalam bersikap dan bergaul: menahan diri saat emosi memuncak, berprasangka baik, dan mengutamakan perbaikan hubungan di atas ego. Dari hati yang lapang, lahir sikap yang lebih santun, tutur yang lebih terjaga, dan relasi yang lebih sehat.
Taqabbalallahu minna wa minkum. Selamat Idulfitri 1447 H, mohon maaf lahir dan batin.
ESD Penilik_


0 Komentar