Ticker

6/recent/ticker-posts

Ad Code


 

Mengambil Hikmah dari Kematian


Kemarin Senin, 4 Mei 2026, saya menghantarkan jenazah kakak ipar, kami memanggilnya Pakdhe Agus, panggilan buat anak-anakku. Di pemakaman kecamatan Purwoasri, Kabupaten Kediri, saya terdiam sejenak di samping makamnya. Angin pagi terasa lebih pelan dari biasanya. Dalam hati saya hanya bisa memanjatkan doa: Ya Allah, terimalah amal ibadahnya selama di dunia dan ampunilah segala dosa-dosanya.

Kehilangan itu selalu meninggalkan ruang kosong. Tapi di tengah kesedihan, ada satu kesadaran yang kembali menyentak: kematian bukan akhir, melainkan awal.

Kematian adalah Pintu Menuju Kehidupan Abadi

Hakikat kematian bagi seorang muslim bukanlah kepunahan. Ia adalah perpindahan dari alam dunia yang fana menuju alam akhirat yang kekal. Tubuh kita akan kembali ke tanah, tapi ruh akan melanjutkan perjalanannya.

Allah SWT berfirman:  
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.” (QS. Ali ‘Imran: 185)

Dunia hanyalah persinggahan. Tempat kita menanam, sementara panennya nanti di akhirat. Maka ketika seseorang meninggal, sejatinya ia telah memulai kehidupan yang sebenarnya. Kehidupan yang tidak ada batas waktunya. Di sanalah amal, niat, dan perilaku kita selama di dunia akan dihisab satu per satu.

Hikmah di Balik Perpisahan

Kematian Pakdhe Agus mengingatkan saya bahwa waktu itu sangat singkat. Hari ini kita masih bisa tertawa bersama, besok bisa jadi kita yang terbaring kaku dalam kafan.

Jika kita mau mengambil hikmah dari kematian, maka kita akan terdorong untuk mempersiapkan diri lebih awal. Bukan persiapan harta, jabatan, atau rumah megah. Karena semua itu tidak akan kita bawa mati. Satu kain kafan pun tidak memiliki kantong.

Persiapan yang saya maksud adalah persiapan cara berperilaku. 
  • Tidak ada lagi keserakahan, karena dunia yang kita kejar tidak akan menemani di liang kubur.
  • Tidak ada lagi dendam, karena yang kita butuhkan saat itu hanyalah ampunan.
  • Tidak ada lagi menunda kebaikan, karena kita tidak pernah tahu kapan giliran kita dipanggil.

Kematian adalah pengingat paling jujur bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan. Jabatan akan ditanggalkan. Harta akan diwariskan. Yang tersisa hanyalah amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang saleh.

Apa yang Harus Kita Lakukan dalam Menjemput Kematian?

Islam tidak mengajarkan kita untuk takut pada kematian, tapi untuk siap menghadapinya. 

Allah berfirman:  
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali ‘Imran: 133)

Maka yang harus kita lakukan adalah:

  1. Memperbaiki hubungan dengan Allah - melalui shalat, dzikir, dan taubat yang tidak ditunda.  
  2. Memperbaiki hubungan dengan sesama - dengan saling memaafkan, berbagi, dan tidak menzalimi.  
  3. Memperbanyak amal kebaikan - sekecil apapun, karena kita tidak tahu amal mana yang akan menjadi penolong kita kelak.  
  4. Selalu mengingat mati - Rasulullah SAW bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian.” (HR. Tirmidzi)

Kematian bukanlah sesuatu yang harus ditangisi terus-menerus. Ia adalah alarm Ilahi yang mengingatkan kita untuk kembali ke jalan yang benar sebelum terlambat.

Jangan Menunggu Sakit untuk Sadar

Kita sering baru sadar pentingnya shalat ketika mendengar kabar duka. Kita baru rajin berbuat baik ketika ada yang meninggal di sekitar kita. Padahal seharusnya kematian orang lain menjadi cermin untuk diri kita sendiri.

Selamat jalan Pakdhe Agus. Semoga Allah melapangkan kuburmu, menerangi jalanmu, dan menjadikanmu penghuni surga-Nya.

Dan untuk kita yang masih diberi napas hari ini, mari gunakan sisa waktu untuk menjadi manusia yang lebih baik. Karena ketika ajal datang, tidak ada lagi kesempatan untuk mengulang.

“Dan setiap umat mempunyai ajal. Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat menunda atau memajukannya barang sesaat pun.” (QS. Al-A’raf: 34)

Posting Komentar

0 Komentar