Banyak orang salah paham ketika seseorang memilih “menjadi diri sendiri”, ia langsung dicap egois, mau menang sendiri, tidak peduli orang lain. Padahal dalam kajian spiritual, menjadi diri sendiri justru kebalikannya. Ia bukan tentang menonjolkan aku, melainkan tentang mengenali aku yang sebenarnya, agar bisa tunduk padaNya.
Menjadi diri sendiri = mengenal diri untuk mengenal Tuhan
Ungkapan para ulama, “Barang siapa mengenal dirinya, niscaya mengenal Tuhannya,” sejalan dengan isyarat Al-Qur’an. Allah berfirman: “Dan di dalam dirimu (terdapat tanda-tanda kebesaran Allah). Maka apakah kamu tidak melihat?” (QS. Adz-Dzariyat: 21). Juga, “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri…” (QS. Fussilat: 53).
Menjadi diri sendiri berarti berani membaca ayat-ayat yang Allah tanam di dalam batin, fitrah yang condong pada kebaikan, kelemahan yang butuh pertolongan-Nya, batas yang tidak bisa dilampaui, dan potensi unik yang dititipkan. Semakin jujur kita mengenali diri, semakin jelas kita melihat jejak Sang Pencipta. Di titik itu ego justru runtuh, digantikan rasa hamba.
Menjadi diri sendiri adalah kodrat, bukan kesombongan
Allah memang menciptakan manusia berbeda-beda. “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal…” (QS. Al-Hujurat: 13).
Perbedaan bahasa, warna kulit, bakat, cara berpikir, semua bukan kebetulan. “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah penciptaan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu…” (QS. Ar-Rum: 22). Maka menjadi diri sendiri adalah menunaikan kodrat: menerima cetak biru yang Allah berikan, bukan meniru topeng orang lain agar diterima. Justru ketika kita memalsukan diri, di situlah ego bekerja: takut kalah, haus validasi, ingin selalu benar.
Mengenal diri melahirkan kesadaran, lalu menerima realitas
Orang yang kenal dirinya tahu kapan marah, kapan takut, kapan iri muncul. Ia bisa memberi nama pada emosinya sebelum emosi itu mengambil alih. Dari situ lahir kesadaran: “Oh, aku sedang tidak aman”, “Aku sedang lelah”, “Aku sedang ingin diakui”. Kesadaran ini membuat kita berhenti menyalahkan keadaan dan mulai mengelola respons.
Dengan kesadaran, kita belajar menerima realitas sebagaimana Allah tetapkan, bukan sebagaimana ekspektasi kita mau. “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216). Menerima realitas bukan pasrah lemah, tapi pasrah yang kuat: tetap ikhtiar, tapi hati tidak pecah saat hasil berbeda.
Mampu sadar diri dan mengontrol kondisi
Orang yang menjadi dirinya tidak reaktif. Ia punya jeda antara stimulus dan respons. Ia tahu kapan harus diam, kapan harus bicara, kapan harus mundur selangkah untuk maju tiga langkah. Ia tidak sibuk membandingkan diri, karena ia paham: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain…” (QS. An-Nisa: 32).
Mengontrol kondisi bukan berarti mengendalikan semua hal di luar. Justru sebaliknya: mengendalikan satu-satunya yang bisa dikendalikan, yaitu diri sendiri. Sikap, niat, adab, dan pilihan harian. Dari situ keadaan luar perlahan ikut tertata, karena kita hadir dengan utuh, tidak sebagai ego yang minta dipenuhi, tapi sebagai hamba yang sedang menjalankan peran.
Jadi, menjadi diri sendiri itu bukan ego, tetapi…
…jalan pulang. Pulang ke fitrah, pulang ke jujur, pulang ke sadar. Ia adalah keberanian menanggalkan topeng demi menemukan wajah yang Allah lukis untuk kita. Ia adalah kerendahan hati untuk berkata, “Aku tidak tahu segalanya, aku tidak kuat sendirian, aku butuh Allah.”
Ketika kita menjadi diri sendiri dalam makna ini, kita tidak lagi bersaing untuk menang, tapi bersinergi untuk tumbuh. Kita tidak lagi takut berbeda, karena perbedaan itu ayat. Dan kita tidak lagi memaksa realitas tunduk pada mau kita, karena kita sudah tunduk pada Realitas yang Maha Benar.
ESD Penilik


0 Komentar