Ticker

6/recent/ticker-posts

Ad Code


 

Warisan Terbaik Untuk Anak adalah Pendidikan


Saya mengajak Bapak Ibu sekalian untuk merenung, kita semua bekerja keras agar anak tidak kekurangan. Ada yang fokus kumpulkan harta, tanah, rumah, tabungan. Itu tidak salah. Tapi saya belajar satu hal, ada satu warisan yang tidak bisa dicuri, tidak habis dibagi, dan nilainya justru bertambah seiring waktu, yaitu pendidikan.

Kenapa saya lebih memilih pendidikan, bukan hanya harta?

Pendidikan membentuk cara berpikir, bukan hanya cara hidup  

Saya melihat sendiri, harta memberi kenyamanan. Pendidikan memberi daya tahan. Anak yang terdidik tahu cara mencari solusi, mengelola emosi, dan membaca peluang. Data BPS 2023 mencatat tingkat pengangguran terbuka lulusan SD 3,59%, SMP 5,95%, SMA 8,41%, SMK 9,42%, sementara Diploma I/II/III 4,87% dan Universitas 4,80%. Semakin tinggi pendidikan, peluang kerja layak dan pendapatan stabil makin terbuka. Ini bukan jaminan, tapi saya yakin ini probabilitas yang lebih baik untuk anak-anak kita.

Pendidikan adalah aset yang tidak tergerus inflasi  

Saya sadar, tanah bisa sengketa. Uang bisa habis. Tapi ilmu yang melekat pada anak akan ikut ke mana pun ia pergi. Saya masih ingat krisis 1998 dan pandemi 2020, banyak usaha tutup. Tapi orang yang punya skill dan ilmu cepat beradaptasi: pindah bidang, buka jasa online, jadi konsultan. Ilmu membuat anak saya nanti tidak bergantung pada satu sumber rezeki.

Pendidikan melahirkan kemandirian, bukan ketergantungan  

Saya khawatir kalau anak hanya diberi harta, ia jadi “penerima”. Tapi kalau saya beri pendidikan, ia bisa jadi “pencipta”. Ia bisa menggandakan nilai dari apa pun yang ia punya, sekecil apa pun modal awalnya.

Tuntunan Al-Qur’an dan Hadis yang menguatkan saya

Allah mengangkat derajat orang berilmu: “...Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11).  

Rasulullah SAW bersabda: “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah). Juga, “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim). Saya merenung, dari tiga amal yang terus mengalir, dua di antaranya terkait pendidikan, ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang lahir dari didikan.

Tentang biaya, “Pas butuh bayar, pas ada”

Saya paham, banyak orang tua menahan langkah menyekolahkan anak karena takut biayanya. Saya dulu juga begitu. Tapi pengalaman saya berkata lain. Khusus untuk pendidikan anak saya, rezeki sering datang tepat waktu. Tidak berlebih, tapi cukup. Entah dari proyek tak terduga, bantuan kerabat, beasiswa kecil, atau pengeluaran lain yang tiba-tiba tidak jadi. 

Ini yang membuat saya pegang janji Allah: “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Thalaq: 2-3). Juga, “Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya…” (QS. Hud: 6).

Kuncinya bagi saya: niat dan tawakal. Saya ikhtiar maksimal, langit yang mencukupkan. Rezeki memang tidak ada yang tahu kapan datang, tapi saya yakin ia dijamin bagi yang bergerak. Menunda pendidikan karena menunggu “mapan” justru membuat anak kehilangan momentum emas otaknya berkembang. Itu yang saya tidak mau.

Kenapa saya memilih mewarisi pendidikan daripada harta? Ini sudut pandang spiritual saya

Harta adalah titipan, ilmu adalah bekal kembali  

Harta akan ditanya: dari mana dan untuk apa. Ilmu yang diamalkan akan menjadi saksi yang meringankan. Saya ingin mewariskan pendidikan agar anak saya punya “mata batin” untuk melihat bahwa dunia ini ladang amal, bukan tujuan akhir.

Pendidikan menghidupkan kesadaran sebagai hamba  

Saya ingin anak saya dididik dengan benar agar kenal dirinya, lalu kenal Tuhannya. “Dan di dalam dirimu (terdapat tanda-tanda kebesaran Allah). Maka apakah kamu tidak melihat?” (QS. Adz-Dzariyat: 21). Kesadaran ini membuatnya tidak mudah silau harta, tidak mudah jatuh saat diuji kurang. Ia paham: Allah adalah Realitas, kita hanya menjalani skenario-Nya.

Ilmu melahirkan syukur dan ridha, bukan takut dan serakah  

Saya belajar, orang tua yang takut bayar sekolah hakikatnya sedang takut pada bayangan masa depan. Padahal masa depan milik Allah. Mendidik anak berarti mendidik diri saya juga untuk percaya: yang menyuruh kita menuntut ilmu, Dia juga yang menanggung biayanya. “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka…” (QS. Adz-Dzariyat: 56-57). Saya fokus pada perintah-Nya, rezeki urusan-Nya.

Warisan pendidikan memutus rantai kemiskinan struktural dan spiritual  

Secara struktural, saya ingin anak berilmu agar memutus lingkaran “kerja apa saja yang penting dapat uang” menjadi “kerja dengan nilai dan keahlian”. Secara spiritual, saya tidak ingin anak mewarisi kecemasan saya tentang uang, tapi mewarisi keyakinan bahwa Allah Maha Mencukupi.

Mari pilih yang tumbuh, bukan yang susut

Saya menyadari, harta bisa habis dalam satu generasi jika anak tidak tahu cara merawatnya. Pendidikan membuat satu generasi bisa membangun harta yang bahkan orang tuanya tidak pernah bayangkan. Jadi saya mengajak Bapak Ibu, jika harus memilih, pilihlah warisan yang membuat anak tetap berdiri meski kita sudah tidak ada: ilmu, adab, dan keberanian berpikir. 

Soal biaya? Mulailah dulu dengan bismillah. Pengalaman saya dan banyak orang tua lain sama, pas butuh bayar, pas ada. Tidak selalu banyak, tapi selalu cukup. Karena yang kita perjuangkan adalah perintah-Nya: mencerdaskan jiwa yang Dia titipkan kepada kita.


ESD Penilik

Posting Komentar

0 Komentar